LiputanTerkini.id, Lampung Utara –-Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) disejumlah Sekolah di Lampung Utara banyak menuai kritik dari orang tua siswa dan pengamat pendidikan.
Di SDN 03 (SDN 03) Tanjung Aman dan SMPN 03 Tanjung Aman menu yang disajikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada hari selasa (24/2) berupa “keringan” dinilai jauh dari standar gizi seimbang yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Berdasarkan pantauan di lapangan, porsi MBG hari selasa (24/2) yang diterima siswa di dua lembaga pendidikan tersebut hanya terdiri dari :
1. Kurma 4 buah.
2. Kacang telur 1 bungkus.
3. Kelapa serondeng 1 bungkus.
4. Kue jajanan pasar 1 pcs.
Padahal, prinsip utama MBG adalah pemenuhan gizi lengkap yang mencakup karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan buah sesuai panduan Badan Gizi Nasional (BGN).
Ketidaksesuaian ini memicu pertanyaan mengenai pengelolaan anggaran. Pemerintah sebelumnya menetapkan alokasi sebesar Rp.15.000/porsi. Namun, secara visual, menu “keringan” tersebut diperkirakan diduga hanya bernilai sekitar Rp.6.000.
“Kami sangat menyayangkan jika anggarannya besar tapi yang sampai ke piring anak-anak hanya menu seadanya. Ini bukan sekadar makan gratis, tapi harus bergizi sesuai janji pemerintah,” ujar salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.
Menurut keterangan, kejadian serupa sebelumnya diduga telah berulang kali terjadi, dimana kwantitas dan kualitas makanan yang rendah menyebabkan protes keras dari pihak penerima manfaat.
Menyikapi laporan orang tua siswa, dihari yang sama awak media pun mendatangi SPPG Yayasan ALRAFAEYZA MALIK NURMAN yang diduga menjadi penyuplai MBG di SDN 03 dan SMPN 03 Tanjung Aman guna mengkonfirmasi dan meminta klarifikasi mengenai adanya pendistribusian MBG tersebut.
Namun sesampainya dilokasi SPPG Yayasan ALRAFAEYZA MALIK NURMAN yang terletak di jalan soekarno hatta, no.207 kelurahan tanjung harapan, kecamatan kotabumi selatan, kabupaten lampung utara, awak media menemui jalan buntu.
Pintu bagian depan SPPG tersebut terlihat tutup, setelah mengetuk dan mengucap salam namun awak media tetap tidak mendapati respon yang berarti.
Dengan maraknya kejadian seperti ini pihak berwenang diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk menindak tegas dapur-dapur SPPG “nakal” demi menghindari potensi korupsi serta malnutrisi terhadap anak bangsa yang menjadi target utama program.
(Editor/Red)
