BERITAPOLITIKTERKINITRENDING

GCP Serukan Rapatkan Barisan: Lawan ‘Londo Ireng’ Modern yang Merusak Persatuan NKRI

LiputanTerkini.ID JAKARTA – Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo (GCP), Bang Iwan, menyerukan pentingnya kewaspadaan nasional terhadap fenomena “Londo Ireng” gaya baru. Istilah yang berakar dari sejarah kolonial ini dinilai masih relevan untuk menggambarkan oknum yang mengorbankan kepentingan bangsa demi agenda asing, mafia, dan oligarki hitam. Di tengah sorotan tajam publik terhadap dinamika lembaga hukum, soliditas seluruh elemen masyarakat menjadi kunci utama mendukung pemerintahan Prabowo Subianto mewujudkan NKRI yang makmur.

Secara historis, londo ireng atau “Belanda Hitam” merujuk pada kaum pribumi yang memihak penjajah demi keuntungan pribadi. Dalam konteks kontemporer, Bang Iwan menegaskan bahwa mentalitas pengkhianatan ini belum sepenuhnya terkikis.

Scroll untuk baca artikel
IKLAN

“Jiwa londo ireng ini melekat pada kaum yang gemar menjadi antek asing atau berpihak pada koruptor, mafia, dan oligarki hitam. Kerja mereka membantu pihak-pihak yang ingin menghancurkan Indonesia secara perlahan,” ujar Bang Iwan kepada awak media.

Ia menambahkan, aktivitas kelompok ini kerap diwujudkan melalui penyebaran kebencian, fitnah terhadap lembaga serta pejabat negara, dan upaya memecah belah persatuan.

“Mereka senang melihat negara ini hancur, dan sebaliknya, hati mereka gusar ketika melihat Indonesia damai dan makmur. Untuk itu, saya mengajak seluruh elemen anak bangsa terus menjaga persatuan demi utuhnya NKRI,” tegasnya.

Seruan GCP ini mencuat di tengah perhatian publik terhadap penanganan kasus hukum yang melibatkan mantan pejabat tinggi di lingkungan Korps Adhyaksa. Menanggapi langkah tegas institusi penegak hukum baik KPK, Polri, maupun Kejaksaan Agung dalam mengusut tuntas berbagai dugaan pelanggaran, Bang Iwan menilai tindakan tanpa pandang bulu wajib terus ditegakkan.

Terkait perkembangan status hukum mantan Jampidsus Febrie Adriansyah yang tengah menjadi sorotan, GCP mendorong adanya transparansi penuh demi terangnya perkara.

“Justru sebaiknya, jika yang bersangkutan mengetahui siapa saja pihak lain yang terlibat, ada baiknya hal itu disampaikan dan diungkapkan agar kasus ini menjadi lebih terang,” kata Bang Iwan.

Langkah hukum yang tegas dan terbuka dari para aparat penegak hukum diharapkan menjadi pembelajaran keras bagi pejabat publik lainnya. “Ini harus menjadi pembelajaran yang sangat berharga bagi seluruh pejabat ataupun orang-orang yang masih mau memakan uang rakyat agar segera menghentikan tindakannya, sebelum rakyat Indonesia semakin marah,” lanjutnya.

Misteri Kematian Sutrimo dan Ironi Ketimpangan Keadilan

Situasi kian kompleks menyusul kabar meninggalnya Sutrimo, pria yang diisukan sebagai Kepala Rumah Tangga (Karumga) mantan Jampidsus Febrie Adriansyah, pada Kamis, 23 Juli 2026. Sutrimo ditemukan tidak sadarkan diri di halaman Klinik Mordent, Kebayoran Baru, sebelum dinyatakan wafat di RS Muhammadiyah Taman Puring. Peristiwa ini memicu berbagai spekulasi di tengah masyarakat mengenai gurita “mafia keadilan”.

Bang Iwan menyoroti kontras sosial yang tajam antara perlakuan hukum terhadap masyarakat kecil dan para pelaku tindak pidana korupsi kakap. Ia menyayangkan ketimpangan yang masih sering dirasakan di akar rumput.

“Ada warga yang baru diduga melakukan pencurian kecil saja bisa berujung fatal akibat amukan massa. Sementara itu, di sisi lain, para koruptor terkadang masih bisa tersenyum dan tidak mendapatkan perlakuan tegas secara visual yang mencederai rasa keadilan. Hal-hal seperti inilah yang sangat melukai perasaan rakyat Indonesia,” kritik Iwan secara tajam pada senin (27/7).

Menghadapi tantangan internal dari mafia hukum dan ancaman dari para “Londo Ireng” modern, GCP meminta masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh narasi yang memecah belah. Fokus utama saat ini adalah mengawal stabilitas nasional agar agenda kesejahteraan dari pemerintah dapat berjalan optimal.

“Mari kita lawan para londo ireng ini. Rapatkan barisan dan berjuang bersama Bapak Prabowo Subianto untuk menjadikan negara ini lebih makmur, adil, dan sejahtera,” pungkas Bang Iwan menutup keterangannya.|RBL

Exit mobile version