BERITAPOLITIK

Menakar Transisi Ekonomi: Komitmen Prabowo, Evaluasi MBG, dan Ketegasan Relawan di Tengah Badai Geopolitik.

×

Menakar Transisi Ekonomi: Komitmen Prabowo, Evaluasi MBG, dan Ketegasan Relawan di Tengah Badai Geopolitik.

Sebarkan artikel ini

LiputanTerkini.Id JAKARTA — Dinamika sosiopolitik tanah air kembali menghangat pasca-aksi demonstrasi mahasiswa yang menyuarakan lima tuntutan terkait kondisi ekonomi nasional. Menanggapi situasi tersebut, Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo (GCP) sekaligus Ketua Presidium 08, H. Iwan Kurniawan, memberikan pandangan strategis dan berkelas dalam dialog interaktif di Kompas TV Live Petang.

Dalam penyampaiannya, H. Iwan Kurniawan menekankan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tidak pernah antikritik, melainkan sedang bekerja keras melakukan perbaikan struktural di tengah tekanan geopolitik global.

Scroll untuk baca artikel
IKLAN

Menjawab kekhawatiran mahasiswa terkait penyesuaian harga BBM, Ketum GCP meluruskan persepsi publik agar tidak terjadi misinformasi. Ia menegaskan bahwa kebijakan penyesuaian harga hanya berdampak pada Pertamax, yang notabene merupakan BBM non-subsidi untuk kalangan menengah ke atas.

“Pemerintah sama sekali tidak menaikkan harga minyak subsidi. Pertalite tetap ada untuk masyarakat. Kami tidak memaksa masyarakat kecil untuk membeli Pertamax,” ujar bang Iwan.

Ia juga menambahkan bahwa fenomena kelangkaan dan dinamika pasar minyak merupakan imbas nyata dari krisis geopolitik internasional (konflik Timur Tengah dan AS) yang juga dirasakan oleh negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina. Saat ini, pemerintah sedang aktif mencari terobosan dan distributor minyak alternatif di luar wilayah konflik untuk mengamankan pasokan nasional.

Terkait polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG), H.Iwan Kurniawan menegaskan bahwa esensi dari program ini adalah misi kemanusiaan yang mulia demi memastikan anak-anak di daerah dan masyarakat prasejahtera mendapatkan asupan gizi yang layak.

Menyikapi adanya kendala pelaksanaan di lapangan, GCP mendukung penuh tindakan tegas hukum yang telah dilakukan. “Jika pelaksanaannya amburadul karena ulah oknum, oknumnya sudah ditangkap. Ini adalah bahan evaluasi total agar ke depan tidak terulang. Bahkan, sebagai bentuk komitmen perbaikan, sudah ada sekitar 8.200 titik dapur MBG yang disuspensi dan ditutup sementara untuk ditata ulang,” jelasnya.

Salah satu poin paling krusial yang disampaikan oleh Ketum GCP adalah mengenai resistensi dari pihak luar akibat kebijakan tegas Presiden Prabowo. Langkah berani pemerintah dalam memberantas korupsi, menyikat mafia migas, serta menerapkan kebijakan impor satu pintu diakui membawa dampak besar bagi negara-negara yang selama ini memiliki kepentingan ekonomi di Indonesia, salah satunya Singapura.

“Ketika negara berusaha menertibkan sistem yang rusak dan membatasi mafia ekspor-impor, pasti ada perlawanan (backlash). Kami berharap adik-adik mahasiswa waspada agar pergerakan idealis mereka tidak disusupi oleh agenda kepentingan asing atau kelompok yang tidak suka dengan ketegasan Prabowo,” imbaunya.

Menutup pernyataannya, H. Iwan Kurniawan menegaskan posisi GCP dan Presidium 08 sebagai relawan yang menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya. Ia menyatakan bahwa dukungan kepada pemerintah bukanlah dukungan buta, melainkan bentuk “Cinta yang Bertanggung Jawab”.

“Kami adalah relawan yang tegak lurus kepada Prabowo karena kami meyakini visi-misi beliau. Namun, jika ada yang salah, kami yang pertama kali akan mengkritisi. Bahkan, kami siap mencabut dukungan jika pemerintah tidak lagi mendengarkan aspirasi rakyat,” tegas Iwan.

Sebagai langkah konkret dan solutif, Iwan juga membuka ruang dialog terbuka dan menawarkan diri secara langsung untuk membantu menjembatani komunikasi antara representasi mahasiswa (BEM) dengan pihak pemerintah, agar setiap aspirasi berbasis data dapat dikonversikan menjadi kebijakan yang solutif bagi bangsa. |RBL