
LiputanTerkini.Id JAKARTA – Wakil Ketua DPR RI sekaligus Ketua Harian DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, dikenal sebagai sosok politikus yang andal dan bersahaja. Berkat jam terbang serta pengalamannya yang luas di dunia politik, Presiden Prabowo Subianto bahkan memberikan julukan khusus kepadanya sebagai “Sang Kancil” sebuah apresiasi bagi salah satu punggawa politik penting lingkaran Istana dan Senayan.
Sepak terjang tokoh senior ini pun diakui banyak pihak, termasuk oleh H. Kurniawan, Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo (GCP), yang menyatakan banyak memetik pelajaran dari kepemimpinan Sufmi Dasco.
Namun, belakangan ini sebuah isu kurang sedap menerpa Sufmi Dasco di media sosial. Isu tersebut berkaitan dengan dugaan kebocoran suara mikrofon (hot mic) dalam Rapat Paripurna DPR RI di Senayan yang berlangsung pada Rabu, 20 Mei 2026. Sesaat setelah Presiden Prabowo Subianto selesai menyampaikan pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro (KEM) dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (PPKF) RAPBN 2027, percakapan spontan antara Sufmi Dasco dan Ketua DPR RI Puan Maharani sayup-sayup terdengar oleh publik. Insiden ini pun memicu beragam tanggapan, baik pro maupun kontra, di berbagai platform media sosial.
Menanggapi fenomena tersebut, Ketua Umum GCP, H. Kurniawan, memberikan pandangan edukatif demi meluruskan persepsi publik. Menurutnya, Sufmi Dasco merupakan sosok pimpinan yang humanis dan selalu menjaga hubungan baik serta rasa hormat kepada seluruh tokoh bangsa, termasuk Joko Widodo, Megawati Soekarnoputri, dan tokoh nasional lainnya.
“Apa yang dilontarkan oleh Pak Dasco murni merupakan gurauan spontan tanpa ada unsur kebencian sama sekali terhadap Bapak Joko Widodo. Ucapan tersebut adalah candaan beliau untuk mencairkan suasana yang sempat tegang pascarapat paripurna,” ujar H. Kurniawan dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/5/2026).
Lebih lanjut, Kurniawan menjelaskan bahwa pidato Presiden Prabowo yang kerap disampaikan dengan penuh semangat dan berapi-api terkadang membuat intonasi suara yang tinggi terbawa ke seluruh ruangan. Hal tersebut tidak jarang membuat para pendengar dan tokoh di podium ikut merasakan atmosfer yang tegang. Oleh karena itu, ucapan spontan dari Sufmi Dasco tersebut dinilai murni sebagai upaya mencairkan ketegangan psikologis di meja pimpinan sidang.
Bang Iwan juga menambahkan bahwa perbedaan pandangan atau munculnya reaksi miring dari sebagian masyarakat merupakan hal yang wajar dalam koridor negara demokrasi. Kendati demikian, ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi.
“Adanya tanggapan pro dan kontra itu biasa dalam alam demokrasi. Namun, mari kita sudahi polemik ini dan bersama-sama menolak segala bentuk hasutan dari pihak-pihak yang menginginkan kegaduhan di Indonesia. Salam waras, dan mari kita tetap menjaga kondusivitas demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” pungkas H. Kurniawan. |RBL